+ Huruf Lebih Besar | -Huruf Lebih Kecil

WELCOME

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas diluncurkannya Weblog ROHIS SMA Negeri 3 Unggulan Kayuagung. Mengingat begitu cepatnya perkembangan IPTEK khususnya dibidang...

Senin, 24 September 2012

Rohis Bukan Tempat Persemaian Benih Terorisme


"Rohis Bukan Tempat Persemaian Benih Terorisme"Kegiatan ekstrakurikuler Rohani Islam yang sejak lama tumbuh di sekolah-sekolah menengah atas, memiliki andil besar dalam membangun moralitas keberagamaan para siswa di tanah air.

Selain itu, keberadaannya ikut memperkuat tugas pendidikan yang diemban pihak sekolah bagi terciptanya kualitas budi pekerja, agar para lulusannya lebih berguna bagi masyarakat dan juga masa depan bangsa.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan di Jakarta, Minggu (23/9/2012), menanggapi aksi protes sejumlah elemen Rohis dan alumninya di Jakarta serta kota lainnya pada hari ini.

Protes itu dipicu sebuah pemberitaan di stasiun televisi swasta nasional beberapa waktu lalu, yang menyimpulkan kegiatan Rohis sebagai sumber berkembangnya terorisme.

"Tidak ada kegiatan Rohis di sekolah mana pun yang menekankan pada terbangunnya sikap siswa untuk menjadi teroris, sebab Rohis memang bukan tempat persemaian benih terorisme," kata Syahganda.

Karena itu, lanjutnya, analisa maupun pemberitaan yang dikembangkan oleh media bahwa bibit terorisme berasal dari kegiatan Rohis, jelas keliru dan tidak memiliki dasar kuat guna memperkuat alasan tersebut.

"Penilaian seperti itu bersifat tendensius dan bertolak belakang dengan kenyataan sebenarnya, dan tentu saja mengabaikan kredibilitas ataupun profesionalisme sebuah media dalam menyajikan pemberitaan," jelasnya.

Akibat itu, tambahnya, kerugian lain juga dialami masyarakat karena media berperan menanamkan stigma negatif terhadap keberadaan Rohis di khalayak luas.

Menurut Syahganda, Rohis sudah menjadi kegiatan umum dan diterima oleh semua sekolah, dengan mengutamakan aspek mentoring keagamaan baik berupa pengenalan dasar-dasar Islam, pelaksanaan ibadah salat berjamaah di masjid atau musala, serta meramaikan syiar dakwah Islam yang bersifat umum berupa penyambutan hari besar Islam maupun pesantren kilat pada saat libur.

"Mereka pun bangga dengan pengalaman ikut Rohis, sama halnya kebanggaan mengikuti ekstrakurikuler lain seperti Palang Merah Remaja atau Pramuka yang juga ditekankan pihak sekolah," ujarnya.

Ia mengaku, manfaat kegiatan Rohis dirasakan secara langsung oleh para siswa, termasuk melatih siswa berorganisasi yang dampaknya akan dirasakan setelah lulus sekolah.(fq/inilah)

Sumber : Eramuslim.com

Rabu, 19 September 2012

FPI Jateng: Kami Siap Minum Darah Pembuat Innocence of Muslims


FPI Jateng: Kami Siap Minum Darah Pembuat Innocence of MuslimsMeski dilarang agama, minum darah jadi ancaman FPI Jateng untuk memprotes film 'Innocence of Muslims'. Tak hanya minum darah, mereka juga siap memakan daging pembuat film itu. (red.Mudah-mudahan berita ini tidak bener)

"Kalau ada pelakunya bisa dipastikan kami minum darahnya, kami makan dagingnya," kata Sekretaris Dewan Syuro FPI Jateng Habib Jindan Baharun dengan menggebu usai mengawal persidangan kasus bentrok Solo di PN Semarang, Jalan Siliwangi, Selasa kemarin (18/9/2012).

Jindan bahkan mengeluarkan air mata dan mengaku sangat sakit hati dengan film yang menistakan Nabi. Ia mengutuk keras film tersebut.

"Kami dipanggil Habib, Insya Allah ada darah Rasulullah dalam darah kami. Kami sangat kutuk penistaan terhadap agama, terhadap Rasulullah," ujarnya sambil menangis.

Usai dari PN Semarang, sebagian anggota FPI pun bergabung dengan sejumlah massa dari Laskar Umat Islam Semarang (LUISS) untuk berunjuk rasa terhadap film berunsur penghinaan agama tersebut.

Massa yang berjumlah puluhan tersebut berorasi di bekas videotron di Jalan Pahlawan dan melanjutkan aksinya ke dua restoran fast food di Jl Pandanaran. Di sana, mereka menempel poster presiden Amerika, Obama dilengkapi tanduk dan tulisan membela Islam.

"Kami minta pemerintah Indonesia mengusir duta besar Amerika dan memutus hubungan diplomatik atas ketidaktegasan Amerika untuk mengeksekusi mati pelaku penghinaan Nabi," kata pimpinan LUISS, Abu Ibrahim.(fq/detik)

 Sumber : Eramuslim.com

Selasa, 18 September 2012

Balas Film Anti Islam Buatan AS, Mahasiswa Muslim Medan Serukan Boikot Produk AS



Demo kecam film anti Islam di depan kedubes AS Jakarta
Balas Film Anti Islam Buatan AS, Mahasiswa Muslim Medan Serukan Boikot Produk AS Kekecewaan umat Islam atas film Innocence of Muslims terus berlangsung. Kali ini mahasiswa di Medan, Sumatera Utara, mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan produk-produk asal negara yang memproduksi film tersebut.

Massa yang mengatasnamakan Gerakan Muslim Sumatera Utara (Geram) melakukan aksinya di depan Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat di Jalan MT Hariono, Gedung Unilan Plaza.

"Boikot produk AS dan Israel, biar hancur ekonomi mereka," ujar salah seorang orator, Selasa (18/9/2012).

Ini dilakukan karena massa menilai, Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas pembuatan film tersebut. Pasalnya, film tersebut menistakan umat Islam. "Tangkap, tangkap pembuat film, pemain dan penyandang dana film tersebut. Mereka harus dihukum," katanya.

Dua ratusan orang yang berasal dari HMI cabang Medan, PEMA USU, PPP, MMI, IMM Medan, KAMMI Medan, dan ICMI Muda, langsung dihadang oleh polisi yang melakukan penjagaan di depan gedung Konjen AS.

Polisi yang sudah bersiap dengan mobil watercannon dan kawat duri melarang pengunjuk rasa masuk ke dalam. Kesal, pengunjuk rasa membakar ban bekas di tengah jalan sehingga membuat kemacetan.

Usai menyampaikan orasi, massa gabungan aliansi umat Islam itu membubarkan diri menggunakan kendaraan menuju sekretariat masing-masing.(fq/okezone)

Sumber : Eramuslim.com

Produk Halal Indonesia Ditolak di UEA, MUI Diminta Evaluasi Diri Soal Sertifikasi Halal


Produk Halal Indonesia Ditolak di UEA, MUI Diminta Evaluasi Diri Soal Sertifikasi HalalWakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi meminta Badan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia Indonesia (LPPOM MUI) mengevaluasi diri terhadap produk halal yang dikeluarkan. Hal berkaitan ditolaknya produk halal Indonesia di negara Uni Emirat Arab (UEA) Juni lalu.

"Bahwa produk halal kita ini ternyata oleh negara lain tidak diakui, nah mungkin seperti itu pesannya (Evaluasi diri)," ujarnya di Jakarta, Senin, 17 September 2012.

Produk sertifikasi halal yang dikeluarkan MUI katanya, seharusnya memberikan rasa aman bagi ekportir, sehingga produk asal Indonesia bisa diterima semua negara khususnya tujuan ekpor negara Islam. Namun dalam kenyataannya tidak semua negara Islam menerimanya. "Padahal kita negara muslim terbesar dunia.".

Bayu berharap MUI dan BPOM menjelaskan, bahwa proses sertikasi halal yang dilakukan lembaganya sesuai standar keamanan dan diakui negara lain. "Halal ini sertifikat, bukan soal teknis tapi soal akidah, di dalamnya ada syariat islam. "Kita harus membuat apa yang disertifikasikan itu diakui," Bayu mengatakan.

Ia mengakui lembaganya tidak bisa mengambil peran mengelurkan sertifikasi halal. Sebab pemerintah telah menetapkan lembaga MUI mengeluarkan label halal itu. "Sekarang majelis ulama yang bicara bukan dari kita, kalau kita yang ambil tidak bisa.".

Sebelumnya Uni Emirat Arab menyatakan tidak mengakui label halal yang dikeluarkan Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetik (LPPOM) MUI. Alasannya mereka tidak mengenal MUI. Usaha lobi yang dilakukan MUI terhadap otoritas UEA juga gagal lantaran lembaga tersebut tidak mewakili pemerintah Indonesia.

Praktis, ekspor bahan makanan ke salah satu pasar negara muslim terbesar itu mandeg. Penolakan itu mencuat setelah sebuah perusahaan eksportir makanan asal Jakarta melaporkan kasus penolakan barang dagangannya pada Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin).(fq/tempo)

Sumber : Eramuslim.com

SBY Bahas Film Innocence of Muslims di Sidang Kabinet


SBY Bahas Film Innocence of Muslims di Sidang Kabinet Protes terhadap film yang dianggap menistakan agama "Innocence of Muslims" diangkat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke sidang kabinet paripurna, Selasa (18/9/2012) siang ini.

SBY meminta Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Djoko Suyanto untuk memaparkan perkembangan situasi di dalam negeri atas reaksi protes terhadap film tersebut di dalam negeri. Kemudian Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa juga diminta untuk memaparkan perkembangan situasi di mancanegara atas reaksi protes film tersebut.

Perkembangan situasi politik di dunia secara langsung maupun tidak langsung, kata SBY, berdampak pada situasi politik dalam negeri.

"Perkembangan situasi dunia utamanya situasi politik yang mengemuka, yang langsung atau tidak langsung berdampak ke tanah air. Contoh, situasi di beberapa negara di timur Tengah maupun di Asia, menyusul dirilisnya sebuah film yang dianggap sebagai penistaan agama tertentu yang sekarang tengah terjadi di beberapa negara bahkan di Indonesia."

Terhadap situasi keamanan di dalam negeri, SBY mengharapkan aksi perotes yang dilakukan masyarakat terhadap peredaran film penistaan agama tertentu itu tidak mengganggu keamanan dalam negeri.

"Upaya yang dilakukan jajaran pemerintah utamnya kepolisian, TNI, intelijen dan lembaga-lembaga lain untuk menjamin keamanan di seluruh tanah air termasuk keamanan publik, ini penting agar stabilitas politik dan keadaan kemananan dalam negeri tetap terjaga sehingga masalah ekonomi yang bisa terjaga dengan baik bisa dilaksanakan untuk rakyat," kata SBY.(fq/inilah)

Sumber : Eramuslim.com
 

Rabu, 12 September 2012


Target Berbahaya Di Balik Ide Sertifikasi Ulama


Akhirnya Ansyad Mbai (Ketua BNPT) buru-buru membantah pihaknya menggulirkan isu sertifikasi ulama di Indonesia. Menurut Ansyad yang benar adalah Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris mencontohkan Singapura yang melakukan sertifikasi ulama. Jurus ngeles ini jalan keluar satu-satunya setelah hampir semua kalangan dari tokoh ormas, para kyai dan bahkan seorang Ketua MK (Mahfud MD) ikut menolak ide sertifikasi. Seperti pepatah “siapa yang menabur angin maka akan menuai badainya”, kira-kira prediksi saya terhadap langkah BNPT kedepan akan seperti itu. Kenapa demikian? Sekalipun dalam dua tahun terakhir BNPT banyak menfasilitasi berbagai komponen atau elemen masyarakat untuk membuat berbagai agenda dalam proyek deradikalisasi.Proyek ini nasional, dengan harapan bisa memenangkan hati dan pikiran publik (the strategy of winning the heart and mind), dalam bahasa Ansyad Mbai (Ketua BNPT) sebagai perang untuk memenangkan hati nurani.Tapi BNPT bisa dibilang kesandung atau gagal, indikasinya begitu mewacanakan sertifikasi ulama ternyata menjadi buah simalakama buat BNPT.Resistensi publik begitu tinggi, muncul komentar dari yang halus hingga “kasar”; ide gila, ide nyleneh, ngawur, sontoloyo, geblek, entah apalagi. Yang jelas itu artikulasi kekesalan publik atas ide atau wacana yang sangat naïf dalam isu terorisme.

Kenapa Ansyad Mbai Cs (BNPT) ingin meraih dukungan dan legitimasi publik? Dikarenakan paradigma yang diadopsi oleh BNPT dalam memetakan fenomena terorisme dan akar penyebabnya menempatkan pemahaman-pemahaman radikal (dalam agama Islam) sebagai faktor atau penyebab utamanya. Maka perlu langkah deradikalisasi dan kontra-radikalisasi. Deradikasilsasi dibangun atas asumsi; adanya ideologi radikal yang mengeksploitasi faktor komplek yang ada (kemiskinan,keterbelakangan, marginalisasi, pemerintahan otoriter, dominasi negara super power, globalisasi, dsb). Akhirnya melahirkan spirit perlawanan untuk perubahan dengan tindakan-tindakan teror ketika jalan damai (kompromi) dianggap tidak memberikan efek apapun. Ideologi radikal ditempatkan sebagai akar sesungguhnya dari fenomena terorisme, dalam kerangka pandangan seperti inilah deradikalisasi di manefestasikan. Dan deradikalisasi dianggap sebagai jawaban tuntas atas persoalan terorisme. Dan BNPT ingin mensublimasi publik dalam paradigma seperti ini, dengan target lenyapnya pemahaman radikal ditengah-tengah mereka (umat Islam). Efek berikutnya jika BNPT berhasil dengan hal tersebut maka akan bisa memuluskan kepentingan-kepentingan yang lebih besar; penguatan legal frame (regulasi) sampai pelarangan kelompok-kelompok yang dicap radikal atau fundamentalis.

Dan hakikat deradikalisasi yang diimplementasikan oleh BNPT itu adalah langkah ”soft approach”, turunan dari strategi kontra-terorisme. Sebuah kebijakan politik sebagai upaya baik dalam bentuk langkah strategis maupun taktis untuk memotong seluruh variabel yang dipandang sebagai stimulan lahirnya tindakan ”terorisme” baik pra maupun pasca (terkait pembinaan terhadap narapidana dan mantan combatan). Namun sayangnya, bisa dipastikan BNPT menempatkan term radikal dengan pemaknaan yang stereotif, over simplikasi dan subyektif.”Radikal” menjadi label yang di lekatkan kepada individu atau kelompok muslim yang memiliki cara padang, sikap keberagamaan dan politik yang kontradiksi  dengan mainstream yang ada. Atau cap ”radikal” itu untuk orang atau kelompok jika memiliki prinsip-prinsip seperti; menghakimi orang yang tidak sepaham dengan pemikiranya, mengganti ideologi Pancasila dengan versi mereka, mengganti NKRI dengan Khilafah, gerakan mengubah negara bangsa menjadi negara agama, memperjuangkan formalisasi syariat dalam negara, menggangap Amerika Serikat sebagai biang kedzaliman global.

Maka yang dimaksud ”de-radikalisasi” adalah langkah upaya untuk merubah sikap dan cara pandang diatas yang dianggap keras (dengan julukan lain; fundamentalis) menjadi lunak; toleran, pluralis, moderat dan liberal.
Definisi radikal diatas sangat bias, persis seperti dunia Barat menjelaskan konsep radikal secara simplistik, bahwa radikalisme banyak diasosiasikan dengan mereka yang berbeda pandangan secara ektrem dengan dunia Barat. (lihat laporan utama majalah Time ed 13 September 2004, setebal sembilan halaman menjelaskan konsep radikal menurut kacamata Barat).

Dalam konteks inilah sesungguhnya ide sertifikasi ulama itu di wacanakan oleh BNPT. Upaya untuk memaksa mindset (baca;pikiran, logika berpikir, isi otak) para ulama sama seperti yang di inginkan oleh BNPT. Mereka (BNPT) berharap sekali ulama itu legowo mau mengusung Islam moderat, liberal dan pluralis. Dan mereka yang sudah mendapat sertifikasi itulah yang dianggap legal untuk menyampaikan dakwah ketengah-tengah umat.Menjadi komunikan yang piawai membangun persepsi dan pemahaman umat Islam yang lebih moderat dan pluralis. Dengan begitu benih-benih terorisme akan tereduksi habis. Cara pandang seperti ini hakikatnya manampar muka BNPT sendiri, secara tidak sadar telah menuduh para ulama yang ada selama ini menjadi biang lahirnya tindakan-tindakan radikal fisik atau bahkan terorisme. Dan tidak salah kalau langkah BNPT dianggap sebagai deradikalisasi yang salah arah, karena dengan jelas-jelas menyudutkan Islam, ulama dan umatnya sebagai habitat subur lahirnya terorisme.Bahkan seolah bernafsu sekali setback membangun kehidupan masyarakat di bawah rezim yang represif dan tirani.

 Jadi sertifikasi ulama pada awalnya sebagai upaya revisi pemikiran.Inilah substansi ide sertifikasi ulama, awalnya tidak masuk di ranah legalitas atau pengakuan. Namun sekalipun BNPT bermaksud hanya main di ranah substansi pemikiran tetap saja akhirnya pada tataran praksis akan mereduksi ”titel” ulama. Sebuah ”titel” yang hakikatnya bukan hadiah atau pemberian negara atau pemerintah tapi itu adalah pengakuan umat kepada mereka dengan segala parameternya. Ulama itu bukan orang yang memegang SIM (surat izin mubaligh) dari pemerintah untuk bisa ceramah atau dakwah dimimbar-mimbar, forum tertutup maupun terbuka.Sebuah pembodohan jika berupaya membangun mindset masyarakat (umat Islam) penerimaan atau penolakan  mereka terhadap ulama berdasarkan ada tidaknya sertifikat yang dimiliki seseorang. Umat harus sadar bahaya atau implikasinya lebih jauh strategi seperti ini.

Sertifikasi ulama adalah derivat dari strategi counter ideologi radikal (deradikalisasi), dan berdiri diatas paradigma ”sarang laba-laba” artinya sangat rapuh sekali.Sebuah upaya revisi pemikiran yang hakikatnya adalah tahrif (penyimpangan) dan tadzlil (penyesatan) pada terma-terma utama yang dituduh sebagai pemicu lahirnya radikalisme dalam Islam. Dalam berbagai forum yang digelar, BNPT berusahan menawarkan tafsiran-tafsiran baru terhadap teks-teks samawi. Karena selama ini pemahaman yang dianggap radikal terhadap teks-teks (nash) menjadi sumber lahirnya terorisme. Karena itu BNPT dalam perang pemikiran dan opini berusaha “mengkonstruksi” ulang beberapa pengertian terhadap terminologi-terminologi tertentu. Misalkan BNPT selalu menampilkan “ijtihad-ijtihad” baru terhadap istilah:  1.Jihad/istishad/ightiyalat dan intihar, 2. Klaim kebenaran, 3. Amar ma’ruf nahyi munkar, 4. Hijrah, 5. Thagut, 6. Muslim dan kafir, 7.Ummatan washat, 8.Doktrin konspirasi, 9. Tasamuh, 10. Daulah Islam dan Khilafah.

Misalkan masalah “jihad”; BNPT berusaha menampilkan tafsiran yang menyempitkan makna jihad. Dan berusaha mengaborsi dengan argumentasi yang  “lacut” bahwa jihad tidak lagi harus di maknai sebagai “al Qital”. Maka hakikatnya ini bukanlah “ijtihad” melainkan dekonstruksi terminologi yang telah baku ditentukan oleh syariat. Tampak sekali, jihad menjadi momok dan seolah menjadi perkara yang harus di aborsi pada diri umat Islam.Demikian juga pada istilah lainya, bahkan cenderung melakukan monsterisasi dan mengkriminalisasi istilah-istilah daulah Islam dan Khilafah. Dibangun persepsi seolah menjadi suatu istilah secara politik perkara yang tidak menguntungkan bagi umat dan kalau perlu harus dibuang jauh-jauh dari benak umat Islam.
Jika BNPT mengkampanyekan “Islam Rahmatan Lil ‘Alamin” dalam berbagai kesempatan, sejauh ini tidak bisa menjelaskan apa yang dimaksudkan Islam versi BNPT tersebut. Penulis berani ambil kesimpulan inilah yang disebut dengan “kalimatul haq iroda bihal baatil” (kalimat yang benar tapi yang diinginkan adalah kebatilan).

Dengan kata lain, ini artikulasi manipulatif BNPT atas nama pluralisme, liberalisme, moderatisme yang jelas-jelas telah difatwakan haram oleh MUI. Dan inilah hakikat yang hendak diraih dari proyek deradikalisasi dengan derivatnya (sertifikasi ulama), pengarusutamaan “Islam moderat” menjadi arus utama di negeri Indonesia dalam bingkai sistem Sekuler Kapitalis-demokrasi. Dan seolah menjadi kewajiban bagi BNPT untuk mengaborsi, menyumbat atau mengalenasi kelompok Islamis yang hendak menegakkan Islam kaffah untuk Indonesia. Penulis melihat justru BNPT menanam benih spiral kekerasan dan teror dalam ruang politik Indonesia yang makin carut marut.

Maka dari paparan diatas, wajar jika umat Islam mempersoalkan bahkan menolak wacana sertifikasi ulama. Karena sebuah ide yang sangat berbahaya karena menyeret masyarakat luas secara manipulative untuk melupakan akar/hulu terorisme yang hakiki. Kemudian berpotensi melahirkan tafsiran menyimpang terhadap nash-nash syariah. Dan tidak kalah bahayanya akhirnya membuat polarisasi umat Islam (perpecahan). Program ini pada akhirnya akan melahirkan bahaya (dzarar) lebih besar berupa tetap tegaknya sistem sekular dan langgengnya imperialisme Barat di negeri Indonesia atas nama GWOT, HAM, Demokrasi, Pasar bebas, dan perubahan iklim. Di bawah sistem sekular, umat Islam hidup dalam  kehidupan yang sempit, jauh dari kebahagiaan lahir batin, dan jatuh dalam peradaban materialisme dan kerusakan moral yang luar biasa. Dan yang paling dasyat adalah di hadapan Allah SWT termasuk golongan orang-orang yang nista. Na’udzubillah min dzalik

Sumber : Eramuslim.com 

Selasa, 11 September 2012

FPI : Isu Terorisme Hanya Untuk Tingkatkan Anggaran


FPI: Isu Terorisme Hanya untuk Tingkatkan Anggaran

Front Pemebela Islam (FPI) menilai serangkaian aksi teror dan ledakan bom di Pondok Bidara, Beji, Depok beberapa waktu lalu hanya rekayasa. Sebab, menurut FPI dalam pengungkapan kasus terorisme akhir–akhir ini banyak kejanggalan yang dilakukan polisi.

Ketua FPI Kota Depok Habib Idrus Al Gadhri mencontohkan, keganjilan pertama terjadi saat polisi mengungkapkan terdapat dua bom dan granat di dalam Yayasan Pondok Bidara, namun hanya satu yang meledak. Selain itu, keganjilan juga terlihat saat M Thorik menyerahkan diri di Pos Polisi (Pospol) Tambora, Jakarta Barat.

“Teroris yang betulan tidak seperti itu, masa meledak di rumah, di Beji lagi. Lalu kalau konsep mereka jihad, masa Thorik menyerahkan diri, lebih baik dia mati dong daripada menyerahkan diri. Lalu tidak memberitahu dimana saja teman–temannya dan jaringannya,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (11/9/2012).

Selain itu, kata dia, aksi terorisme ini selalu dikatikan dengan para pelaku yang umumnya berjenggot, pakai jubah gamis, dan bercadar. Menurutnya, Islam radikal hanya ciptaan orang–orang Yahudi dan Amerika Serikat (AS). “Ini ciptaan Yahudi semua, yang untuk menghancurkan umat Islam,” tegas Idrus.

Belum lagi, lanjutnya, polisi terkesan menciptakan bahwa serangkaian aksi teror banyak terjadi di Indonesia. Sehingga menjadi pertimbangan bagi Amerika Serikat untuk mengucurkan dana pemberantasan terorisme. “Ini aksi cari sensasi saja, karena pemberantasan teroris itu kan program Amerika Serikat,” tukasnya.

Seperti diketahui, belum lama ini Komisi I DPR setuju untuk menambah anggaran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Polri. Kenaikan anggaran logistik ini agar aparat tidak terjadi kecolongan lagi dalam mengantisipasi aksi terorisme.

Sejumlah Komisi di DPR menyatakan persetujuannya untuk meningkatkan anggaran logistik aparat keamanan karena prihatin dengan makin seringnya terjadi tindak terorisme di berbagai wilayah di Indonesia saat ini. (fq/okezone)

Sumber : Eramuslim.com

Minggu, 06 Mei 2012

Jokowi Tepis Dugaan Unsur Politis dalam Bentrokan di Solo

06/05/2012


Walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi) menepis dugaan adanya motif politis dalam bentrok masa gabungan Ormas dengan warga di Gandekan, Jebres, Solo Kamis-Jumat (4-5 mei) lalu.
Kepada wartawan di sela-sela menjenguk Ngatiman, 63 tahun, warga RW 008 Bangunharjo, Gandekan, Jebres korban bentrok di RW 009 Bangunharjo, Gandekan Jumat lalu dia menegaskan dia tidak melihat adanya motif politis dalam bentrok tersebut.
“Tidak ada itu unsur politis. Yang terpenting persoalan segera bisa dirampungkan. Kami melakukan koordinasi dengan Danrem, Polresta dan Dandim dengan baik,” katanya menjawab dugaan unsur politis terkait pencalonan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta.
Jokowi mengingatkan siapa saja supaya tidak melakukan tindakan yang bisa mengancam ketenangan dan kedamaian Kota Bengawan. “Kota ini sudah lama tenang. Jangan ada yang coba kompor-komporin atau memanas-manasi situasi,” imbuhnya.(fq/solopos)
Sumber : Eramuslim.com

Banser DKI Malah Jadi "Pengawal" Diskusi Tokoh Lesbi Irshad Manji di Kantor AJI

06/05/2012

Setelah sebelumnya diskusi Irshad Manji di di komunitas Salihara di kawasan Pasar Minggu, dibubarkan oleh aparat keamanan. Sabtu malam kemarin (5/5), diskusi yang menampilkan sosok kontroversial tersebut digelar kembali.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar diskusi dengan Irshad Manji. Diskusi digelar dalam penjagaan ketat Banser DKI Jakarta.
Pantauan detikcom di Kantor AJI di Jl Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (5/5), pukul 19.40 WIB, diskusi dijaga 50 banser berpakaian seragam dan senjata lengkap. Mereka mengamankan diskusi AJI dengan pengarang buku 'Allah, Liberty and Love' tersebut.
"Kita ada sekitar 50 personel. Kita diminta menjaga di sini sampai di jalan sekitar Kantor AJI agar memastikan diskusi berjalan aman," kata Satkorwil Banser DKI Jakarta di lokasi kejadian.
Dalam diskusi semalam, Irshad Manji hadir didamping dua pembicara lain yaitu Dosen Universitas Paramadhina Novrianto Kahar, dan wartawan senior Jakarta Post, Endi Bayuri. (fq/dtk)
Sumber : Eramuslim.com

Umat Islam Solo Raya Longmarch atas Tragedi Pengeroyokan Preman Kafir terhadap Pemuda Muslim

04/05/2012

Solo, 4/5/2012 – Buntut dari penyerangan dan pengeroyokan terhadap 3 Pemuda Muslim oleh puluhan preman Kafir yang merupakan anak buah dari Iwan Walet di kampung Kadirejo RT 01/01 Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis sore 3/5/2012, siang ini ratusan Elemen Umat Islam Solo Raya dan warga Muslim Gandekan Solo bersatu mengadakan Longmarch dari Masjid Muhajirin Mojo menuju Gandekan yang merupakan Basis Kampung Kristen.
Dalam aksi Solidaritas ini, menurut salah seorang peserta yang dimintai keterangan oleh Kru kami, aksi siang ini bertujuan sebagai sarana ukhuwah islamiyah atas didzoliminya 3 pemuda muslim di Gandekan. Selain itu, aksi ini adalah bentuk Jihad karena Preman Kafir telah menyulut api peperangan.
Sementara itu, Prof. Dr. dr. H. Zainal Arifin Adnan, Sp.PD-KR. FINASIM selaku Ketua MUI Solo yang menyempatkan untuk mendatangi para Aktivis Islam dan warga Gandekan Solo dimasjid Muhajirin Mojo berpesan dan menegaskan bahwa dirinya tidak rela jika jatuh korban lagi dari Umat Islam.
“Saya tidak rela jika kalau ada saudara kita (dari Umat Islam-red) yang menjadi korban. Dan saya berharap bahwa senjata yang dibawa hanya untuk menjaga Izzah (kaum muslimin-red),” Tegas Prof. Zaenal sapaan akrab beliau.
Ust Agus yang didaulat sebagai Koordinator aksi solidaritas-pun menegaskan bahwa senjata yang dibawa para peserta aksi hanya sebagai alat untuk menjaga Izzah Islam dan Kaum Muslimin. “Ini hanya untuk menjaga Izzah Islam”, Ucap Ust Agus singkat.
Kemudian dalam keterangannya melalui pesan singkat (SMS), Endro Sudarsono yang merupakan Aktivis Islam Solo dan salah satu pengurus Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) menjelaskan bahwa acara siang ini adalah bentuk solidaritas kepada sesama muslim yang telah didzolimi oleh Preman Kafir dikampung Gandekan.
“Ini acara Longmarch dan Pemantauan agar kondisi tetap kondusif. Dan saya juga dapat kabar bahwa Iwan Walet juga sudah ditahan ”, Ujarnya singkat melalui SMS.
Mari kita doakan bersama agar aksi Solidaritas Umat Islam Solo terhadap saudaranya yang didzolimi oleh orang-orang Kafir yang ada diSolo bisa berjalan dengan lancar sesuai tujuan dan cita-cita mereka. Dan semoga Umat Islam Solo diberi kekuatan untuk tetap teguh dalam menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar demi kebaikan dan kemaslahatan umat Islam khususnya dan masyarakat pada umumnya. (AS/Kru FAI)
Sumber : Eramuslim.com

3 Pemuda Muslim Solo Dibacok Preman Kafir

04/05/2012
Solo, 3/5/2012 - Sepuang takziyah, 2 pemuda di bacok puluhan preman kafir, 1 korban yang tidak tau menau masalah pun menjadi sasaran amukan para preman dan terluka parah (3/5/2012). Kejadian tersebut berlangsung tanpa diduga-duga. Sandi dan Tanto sepulang taziyah dari makam Purwoloyo Pucang Sawit yang berkendaraan sepeda motor di hadang puluhan preman di Pasar Tengklik tak jauh dari lokasi pemakaman. Puluhan preman tersebut besenjatakan parang, pedang, balok kayu dan batu. Di sinyalir preman tersebut adalah antek-antek dari Iwan Walet.
Iwan Walet seorang Kristen Katholik adalah mantan Kostrad yang dicopot secara tidak hormat karena sering melakukan tindak pidana. Setelah dia keluar dari Kostrad, dia terjun kedunia perwaletan dan menguasai beberapa Preman Kristen Kafir diSolo.
Sandi terluka di bagian punggung dan kepala yang meninggalkan banyak luka jahitan setelah di larikan ke rumah sakit kustati Surakarta. Sementara ituu tanto yang di sabet pedang terluka di bagian tangannya.
Kejadian yang menimpa Sandi dan Tanto memancing rasa ingin tau Agus warga Polokarto yang mendekat dan kemudian juga menjadi korban kebringasan puluhan preman. (Foto; Sandi)
Berdasarkan pengakuan Agus, dia sebetulnya tau menau apa persoalan sebenarnya. Yang dia tau bahwa dimelihat ada ribut-ribut lalu mendekat karena ignin lebih tau, tiba-tiba ada yang membacok dia.
“Saya sedang sholat di masjid, selepas sholat saya melihat ada ribut-ribut, kemudian saya mendekat. Tau tau saya di lempar batu dan di bacok, saya tersungkur dan tidak tau apa yang terjadi”, Ujar Agus saat diminta keterangannya oleh Kru FAI saat Kamis malam (3/5/2012) masih terbaring di Rumah Sakit.
Korban kemudian di rawat secara intensif di UGD DR. Moewardi Solo karena lukanya yang cukup parah. Keluarga korban tidak menyangka jika Agus turut menjadi korban, Agus di kenal sebagai seorang yang pendiam dan bukan anggota kelaskaran. Keluarga korban menduga, Agus menjadi korban salah sasaran oleh para preman, di karenakan penampilan agus yang berjenggot dan bercelana cingkrang .
Peristiwa yang menimpa para korban mengundang solidaritas aktivis islam dan warga Mojo Pasar Kliwon Surakarta. Para aktivis dan warga berkumpul di masjid Muhajirin untuk menyerbu tempat kejadian mencari pelaku pengroyokan.
Bentrokan pun tidak terelakan. Menurut keterangan Abu Umar Abdullah selaku koordinator jamaah, hal ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas umat islam, selain itu hal ini juga di picu tidak berpihaknya polisi sebagai penegak hukum kepada umat muslim. Beliau juga menambahkan bahwa polisi tidak serta merta menangkap pelaku pengroyokan padahal jelas-jelas jatuh korban dan seakan-akan melindungi para Preman Kafir yang melakukan penyerangan dan pengeroyokan tersebut.
Hingga berita ini di tulis tempat kejadian di jaga ketat aparat kepolisian, dan korban Agus masih terbaring lemah di RSUD Moewardi Solo. Agus yang dimintai keterangan lebih lanjut juga tidak bisa berbicaraya banyak dan masih terbata bata karena menahan rasa sakitnya di bagian rahang dan kepalannya. Sementara itu polisi masih menjaga ketat lokasi kejadian dengan menurunkan berapa kompi polisi dan intelejen, serta melibatkan Linmas untuk penjagaan. (AS/Kru FAI)
Sumber : Eramuslim.com

2 Anggota Laskar Islam Diserang Sejumlah Preman, Solo Memanas

04/05/2012

*Keterangan Gambar diambil dari Muslimdaily : Sejumlah anggota laskar tengah menyisir lokasi kejadian mencari Iwan Walet.
Solo, 3/5/2012 - Sejumlah preman yang diketuai oleh Iwan Walet mengeroyok 2 orang anggota sebuah Organisasi Laskar Islam Solo di kampung Kadirejo RT 01/01 Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah, Kamis sore 3/5/2012. Satu orang anggota laskar mengalami luka berat dan seorang lagi luka ringan. Korban luka berat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Moewardi dan Rumah Sakit Islam (RSI) Kustati Pasar Kliwon Surakarta.
Pemicu pengeroyokan anggota laskar tersebut diduga kuat karena dendam lama kelompok preman di bawah pimpinan Iwan Walet terhadap keberadaan sejumlah laskar Islam di Surakarta yang sering melakukan Razia Pekat (Penyakit Masyarakat).
Pengeroyokan berawal saat dua orang anggota laskar yang bernama Agus Pamuji dan Sandinino pulang dari menghadiri Takziyah. Mereka pulang melewati kampung Kadirejo yang merupakan “Basis Banteng” yang mayoritas bergama Kristen Katholik. Tidak hanya di kampung Kadirejo, Kampung Gandekan – Jebres – Nusukan – Mojosongo notabenya juga merupakan daerah “kekuasaan” mereka dan kesemuanya merupakan Basis Kristen.
Kedua laskar tersebut mengendarai sepeda motor setelah menghadiri Takziah. Saat melintasi lokasi kejadian, sekawanan preman setempat ada yang mengenali 2 anggota laskar itu. Sejumlah preman yang mengetahui mereka langsung melakukan pengejaran dan penghadangan terhadap dua anggota laskar itu sebagai ajang pembalasan.
Karena kalah dalam jumlah massa, membuat Agus dan Sandi kuwalahan menghadapi sejumlah preman tersebut. Keduanya dikeroyok oleh kawanan preman yang menggunakan berbagai macam senjata mulai dari kayu, linggis, dan benda-benda tumpul keras lainnya. Untungnya, Sandi berhasil meloloskan diri dari serbuan puluhan preman, sehingga ia hanya mengalami luka ringan dan robek di kepala. Sementara Agus Pamuji, warga Sukoharjo, Jawa Tengah, menderita luka cukup serius akibat babak belur dihajar para preman tersebut.
Para preman tersebut juga membakar sebuah motor yang dikendarai korban. Polisi yang tiba di lokasi kejadian berhasil mengevakuasi kedua anggota laskar ke rumah sakit serta memadamkan sepeda motor milik Agus yang sudah dibakar sejumlah preman.
Sandinino, warga Semanggi, 23 th, kemudian dilarikan ke IGD Rumah Sakit Islam Kustati Pasarkliwon Surakarta karena luka robek di kepala. Sementara Agus harus dibawa ke RSUD Moewardi. Pengeroyokan 2 orang anggota laskar tersebut kemudian memicu ratusan rekan-rekan anggota laskar lainnya dari berbagai macam Ormas untuk mendatangi lokasi kejadian. Mereka bermaksud mencari Iwan Walet yang dianggap sebagai otak pimpinan pengeroyokan.
Dari pantauan Kru kami dan sumber kami menyebutkan bahwa sampai sore tadi Ratusan laskar masih menyerbu kampung Kadirejo. Dan sampai berita ini kami muat, para laskar yang terjun kelokasi kejadian belum berhasil menemukan Iwan Walet yang dicari. Dan kabar yang malam ini kami dapat, Iwan Walet entah kabur atau “dikaburkan” dari Solo.
Bentrokan ini diduga karena dipicu oleh rangkaian perseturuan sebelumnya, yang melibatkan antara Llaskar Umat Islam dengan kelompok preman pimpinan Iwan Walet. Kelompok laskar yang dikenal dengan nama Tim Hisbah Solo selama ini dikenal sangat aktif melakukan penyisiran dan Razia Pekat (Penyakit Masyarakat) terhadap kantong-kantong perjudian, mabuk-mabukan/Miras dan aktivitas kemaksiatan lainnya di kota Solo.
Sementara itu, Iwan Walet merupakan salah seorang preman Solo yang dikenal karena aktivitasnya dalam dunia perwaletan dan kedekatannya dengan beberapa “Penggede” (orang-orang besar) dan tokoh-tokoh di Solo seperti Wakil Walikota Solo, Kasno (DPRD Solo dari PDI-P), Kusumo (Bos hiburan malam Solo Cafe, Panti Pijat, Diskotik, dll..). dengan kedekatannya itulah yang membuat dia kemudian merasa “Jumawa” (paling hebat).
Iwan Walet sendiri merupakan mantan anggota TNI dari Kostrad yang dipecat secara tidak hormat karena terlibat dalam sejumlah tindak pidana. Dan sampai berita ini kami buat, Kru kami masih melakukan investigasi untuk meng-update berita terbaru.
Saat ini aparat Kepolisian dari Polresta Solo, Jawa Tengah sudah disiagakan dilokasi kejadian dan di Jalan RE Martadinata, Gandekan, Jebres, Solo, Jawa Tengah. (Hrs/Kru FAI)
Sumber : Eramuslim.com

Senin, 02 April 2012

Ketika Hermeneutika Mendekonstruksi Hukum Islam

02/04/2012

Saat pertama kali al-Qur’an muncul, banyak penantang dan penentang. Kondisi tersebut juga terjadi pada masa sekarang ini, dimana banyak yang menantang dan menentang. Mereka meragukan orisinalitas serta konsep-konsep al-Qur’an. Tak heran terjadi benturan-benturan di sepanjang zaman.
“Mereka yang menantang dan menentang itu menolak diintervensi oleh Tuhan. Mereka berpikir, jika ingin maju, maka harus berkiblat ke Barat”.
Begitulah Fahmi Salim, MA dalam paparannya dalam acara Kajian Islam yang bertema ‘Kontroversi studi al-Qur’an Timur dan Barat’. Selain menghadirkan Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), acara yang diadakan oleh Majelis Dai Paguyuban Ikhlas pimpinan Ustaz Drs. H. Ahmad Yani, yang berlangsung di Gedung Ikhlas, jalan Fachrudin no 6, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini, juga menghadirkan Saifuddin Zuhri (dosen Institut PTIQ, Jakarta), DR. Abdul Muid Nawawi, dan Mulyana, Lc.
Para penentang al-Qur’an ini, lanjut Fahmi, memaksa umat Islam untuk menjustifikasi isu Hak Azasi Manusia (HAM), gender, pluralisme, dan juga faham-faham humanisme. Oleh mereka, Islam ditafsirkan dari faham-faham Barat, bukan sebaliknya. Inilah yang melahirkan Islam Liberal, dimana mereka melihat Islam dari perangkat ilmu-ilmu manusia, lebih tepatnya ilmu dari duni Barat.
“Tak heran pola pikirnya jadi salah dan kacau,” tegas Fahmi.
Penasiran-penasiran yang dilakukan oleh para penantang dan penentang al-Qur’an ini melahirkan hermeneutika, yakni membaca dan memahami kitab suci dengan cara mendudukkannya dalam ruang sejarah, bahasa, dan budaya yang terbatas. Ilmu ini dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler, yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam.
Mereka yang berfaham Islam Liberal memandang al-Qur’an bukan sebagai kitab suci wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah. Mereka memandang al-Qur’an sebagai sebuah teks sejarah. Oleh karena dianggap sebagai teks sejarah belaka, tak heran hukum-hukum Islam yang ada sudah dianggap tidak tepat lagi pada masa kini. Inilah yang membuat Islam didekonstruksikan oleh mereka dan banyak orang yang menjadi bimbang, dan kemudian sesat.
“Praktek hermeneutika ini tebang pilih. Mereka hanya menafsir ayat-ayat untuk pranata sosial, seperti ayat tentang jilbab, hak waris, poligami, perkawinan sejenis, perkawinan beda agama, judi, maupun minuman keras. Ini jelas terbaca, bahwa mereka punya agenda untuk mendekontruksi hukum Islam dan ingin mengatakan, Islam jangan mengatur hidup manusia,” papar Fahmi.
Penggiat-penggiat HAM, feminisme, humanisme, dan liberal yang mendekonstruksi hukum Islam ini membuat umat Islam masa kini galau. Mereka menjadi krisis identitas. Sementara teori-teori dari hurmeneutika yang dikembangkan ini dianggap masuk akal, mau tak mau umat jadi terbawa ke arah kesesatan.
“Padahal setiap yang dibawa oleh peradaban Barat harus diseleksi, difilter, apakah konsep sosial di Barat sesuai dengan masyarakat Islam. Yang terjadi justru sebaliknya orang Islam malah menyeleksi sesuai dengan standar Barat. Kalau sesuai, dipakai. Jadi Islam dijalankan dengan sesuai keinginan manusia”.
Padahal umat Islam mengenal dengan otoritas. Allah adalah otoritas kita. Jika kita menentang otoritas, itu sama saja kita menentang Allah. Otoritas Allah diturunkan pada Rasulullah. Lewat Rasulullah, ilmu Allah diturunkan pada manusia. Intinya, ketika kita bicara agama, maka kita berbicara otoritas. Berbeda sekali dengan Barat yang menentang otoritas. (*)
Sumber : Eramuslim.com

Komunitas Muslimah Untuk Kajian Islam Serukan Tolak RUU Kesetaraan Gender

31/03/2012 
Rita Soebagjo Komunitas Muslimah untuk Kajian Islam (KMKI) menolak secara keseluruhan pasal demi pasal dalam RUU Kesetaraan Gender. Menurut Sekretaris KMKI Rita Soebagio, secara pribadi dirinya menganggap RUU Kesetaraan Gender adalah produk sekuler yang tidak diperlukan sama sekali oleh para muslimah.
Pasal yang krusial, kata Rita, hampir banyak pasal krusial. "Beberapa memang berbeda pendapat, ucapnya, karena ada yang menganggap menerima dengan catatan, tapi bagi dirinya lebih baik menolak seluruhnya," ujar aktivis muslimah ini dalam rilisnya kepada Eramuslim.com, Sabtu (31/3).
Para aktivis organisasi perempuan, kata Rita, menyatakan pandangan dan sikap diantaranya adalah pertama, RUU ini bersifat sekular dan tidakberlandaskan nilai-nilai agama sehingga bertentangan dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, yakni pengakuan kepada Allah Yang Mahakuasa sebagai penganugerah nikmat kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Pembukaan UUD 1945 menyatakan, bahwa bangsa Indonesia telah mengakui Allah SWT sebagai Tuhan mereka, dan seharusnya juga mengakui kedaulatan Allah Yang Maha Kuasa untuk mengatur kehidupan mereka," tegasnya.
Kedua, RUU ini terlalu memaksakan nilai-nilai lokal peradaban Barat yang sekular, liberal, dan materialistik, tentang konsep dan kedudukan perempuan, menjadi nilai-nilai universal yang harus dipelukoleh semua bangsa di dunia.
"Padahal, berbagai bangsa memiliki nilai-nilai yang khas. Bangsa Indonesia yang telah mengakui kedaulatan Allah Yang Maha Kuasa, dalam pembukaan konstitusinya, seharusnya tidak mudah terseret arus globalisasi dan westernisasi yang terbukti telah menjerumuskan umat manusia ke jurang kehampaan dan ketidakpastian nilai, sehingga menjauhkan mereka dari kehidupan yang bahagia," tandasnya.
Ketiga, RUU ini telah menafikan dan mengecilkan arti dan peran perempuan sebagai Ibu Rumah Tangga, sebagai pendamping suami dan pendidik anak-anaknya. Partisipasi perempuan dalam pembangunan hanya diukur berdasarkan keaktifannya di ruang publik. Sangat ironis, jika pandangan semacam ini diterapkan hanya untuk mengejar peringkat Human Development Index.
Padahal, konsep dan cara pandang seperti ini akan memunculkan ketidakharmonisan dan bahkan penderitaan bagi perempuan itu sendiri, karena peran yang dijalankannya didapat melalui belas kasih dan pemaksaan porsi gender dan bukan karena kapabilitas dan kehormatan pribadinya.
Keempat, RUU ini bertentangan fitrah manusia yang telah dikaruniakan Allah Yang Maha Kuasa, dimana laki-laki dan perempuan, diciptakan dengan potensi masing-masing untuk saling melengkapi dan bekerjasama dalam berbagai aspek kehidupan. Allah Yang Maha Kuasa telah menempatkan laki-laki sebagai pemimpin dan penganggung jawab keluarga yang wajib berlaku adil, beradab, dan penuh kasih sayang, dalam ber mu’asyarah dengan perempuan.
KMKI dan aktivis organisasi perempuan, kata Rita, mengusulkan kepada DPR dan pemerintah untuk menyusun RUU tentang Keluarga Bahagia dan Sejahtera sebagai alternatif dari RUU Kesetaraan Gender.
"Sebab, keluarga adalah pilar tegaknya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," tegasnya.

Beberapa Ormas Islam, kata Rita, seperti Hizbut Tahrir Indonesia, Aisyiah PP Muhammadiyah, Musliat Nahdhatul Ulama, Majelis Ulama Islam yang melakukan dengar pendapat dengan DPR beberapa waktu lalu. Pada prinsipnya menolak dengan catatan. Sedangkan HTI menolak sepenuhnya.
Sumber : Eramuslim.com

Selasa, 28 Februari 2012

"Ratu Illuminati" Bakal Konser di Indonesia

28/02/2012
Setelah simpang siur tentang kedatangannya, Lady "Ratu Illuminati" Gaga akhirnya berencana untuk konser di Jakarta. Penyanyi yang kerap menampilkan simbol-simbol illumintai itu direncanakan konser di Jakarta pada 3 Juni 2012 di Stadion Gelora Bung Karno.
Adalah promotor Bigdaddy yang memboyong pelantun lagu Bad Romance itu ke Jakarta. Permintaan konser Lady Gaga yang tidak saja datang dari Tanah Air, tapi dari negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Australia membuat Bigdaddy bersemangat untuk memboyong Gaga ke Jakarta.
"Permintaan masyarakat dan respon media di Singapura, Hong Kong, Korea, Australia dan Selandia Baru sangat fenomenal dan belum pernah terjadi sebelumnya. Permintaan telah begitu kuat yang meminta penambahan pertunjukan di hampir semua kota," bunyi rilis Bigdaddy, yang diterima inilah.com.
Konser Lady Gaga yang bertajuk 'Lady Gaga’s The Born This Way Ball to Jakarta' itu menjadi penanda akhirnya konser Asia Lady Gaga, sebelum melanjutkan ke Australia dan Selandia Baru. (Pz)
Sumber : Eramuslim.com

Satu Kursi Pesawat Presiden Sama Dengan Harga Dua Sekolah Dasar

28/02/2012
Keputusan SBY untuk membeli pesawat kepresidenan senilai R. 820 M dikritik banyak pihak. Bahkan LSM Bendera bersama anggota Tim Advokasi Koalisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Gunawan,merilis total dana yang dibutuhkan untuk interior dan security sistem pesawat kepresidenan mencapai Rp 243 miliiar. Bila jika diasumsikan ada 100 kursi di dalam pesawat itu, maka harga rata-rata tiap kursi senilai Rp 2 Miliar.
Mustar Bonaventura, selaku juru bicara, Ahad (26/02) menjelaskan, harga kursi Rp 2 miliar itu setara dengan membuat dua sekolah dasar permanen dengan 6 ruang kelas dan satu ruang guru, satu ruang kepala sekolah dan satu lapangan volli atau badminton. Jika satu kelas rata-rata berisi 40 siswa, ujarnya, maka, setiap SD itu bisa menyekolahkan 240 siswa.
"Akan tetapi jika kegiatan sekolah di buat dua kali dalam satu hari, yaitu pagi dan siang maka tiap SD bisa menampung 480 siswa atau 960 siswa untuk 2 SD. Dengan demikian, jika seluruh biaya kursi itu di gunakan untuk membangun SD maka ada 960 anak yang bida bersekolah. Jika tiap bangunan bertahan rata-rata 10 tahun maka dengan harga 100 kursi pesawat Presiden bisa menekolahkan 96.000 siswa," paparnya.
Mustar meyakini, pembelian pesawat kepresidenan dengan harga yang luar biasa mahal ini sangat menyakiti rasa keadilan rakyat Indonesia. Saat ini, sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan.
"Keputusan membeli pesawat kepresidenan di saat Indonesia masuk peringkat 5 terbesar di dunia dalam jumlah Balita kurang gizi yaitu 900.000 balita, merupakan keputusan tanpa akal dan nurani," ujar dia. (Pz)
Sumber : Eramuslim.com

Pengacara Ustadz Abu Sebut Ada Tekanan AS Kepada MA

28/02/2012
Muhamad Assegaf, salah satu pengacara Ustadz Abu menyebut ada tekanan dan rekayasa pihak asing dibalik putusan MA yang menolak kasasi Ustadz Abu.
"Dari sejumlah perkara yang dihadapi Baasyir, rekayasanya sangat kental sekali. Seorang Abu Bakar Ba'asyir yang sudah renta dan umurnya 75 tahun masih tetap dijadikan target seolah-olah orang berbahaya," kata Muhammad Assegaf sepertip dikuti BBC Indonesia.

"Dan beberapa hari menjelang keputusan, sudah diisukan tentang pemblokiran rekening Jamaat Ansharut Tauhid, JAT. Jadi rekayasa dan tekanan terhadap pemerintah Indonesia terhadap Abu Bakar Ba'asyir ini sangat kental sekali," tambahnya.
Hari Jumat (24/02) lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat melalui rilis yang dimuat situs resminya memasukan JAT dalam daftar organisasi teroris asing.
Deplu Amerika juga menyebutkan JAT bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap warga sipil, polisi dan militer di Indonesia serta berusaha menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. UstadzAbu Bakar Ba'asyir dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana terorisme dan divonis 15 tahun penjara Juni tahun lalu. (Pz)
Sumber : Eramuslim.com

Kasasi Ditolak, Ustadz Abu Dihukum 15 Tahun Penjara

28/02/2012
Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan pidana dengan hukuman penjara 15 tahun kepada terdakwa kasus tindak pidana terorisme Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Putusan di tingkat kasasi dalam perkara itu dipimpin hakim agung Djoko Sarwoko, didampingi dua anggota yakni Mansur Kertayasa dan Andi Samsan Nganroe.

Dalam amar putusan perkara pidana khusus tindak pidana korupsi Nomor 2452 Kasasi/Pid. Sus/2011 tersebut, MA menolak permohonan Kasasi II Ustadz Abu dan mengabulkan permohonan Kasasi I dalam tuntutan Penuntut Umum Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang menuntut terdakwa dengan hukuman penjara 15 tahun.

"Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No 148/Pid.B/2011/PN tanggal 16 Juni 2011," kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur pada saat membacakan petikan putusan perkara itu, di gedung MA, Senin (27/2).

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan Ustadz Abu dengan hukuman penjara 15 tahun dengan Putusan Nomor 148/Pid.B/2011/PN Jakarta Selatan 16 Juni 2011. Ustadz Abu dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaan subsider, yakni pasal 14 jo pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme.

Namun, putusan itu dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 332/Pid/2011 Oktober 2011, yang memutuskan Abu Bakar Ba"asyir dengan hukuman penjara 9 tahun.

MA beralasan, Pengadilan Tinggi Jakarta yang membatalkan tuntutan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena hanya mempertimbangkan unsur materilnya, sedangkan tindak pidana terorisme merupakan tindak pidana formil.
"Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta dibatalkan karena hanya mempertimbangkan unsur materil, sedangkan terorisme merupakan tindak pidana formil, sehingga tidak perlu dibuktikan adanya akibat dari perbuatan itu," ujar Ridwan.
Menanggapi putusan 15 Direktur JAT Media Center (JMC) ustadz Son Hadi menyampaikan bahwa intervensi A.S begitu nyata dalam putusan MA tersebut. Rilis Deplu AS beberapa hari sebelumnya bahwa JAT adalah kelompok teroris, tidak lepas dari skenario untuk menolak kasasi Ustadz Abu. (Pz)
Sumber : Eramuslim.com

Kamis, 16 Februari 2012

Di Depan Ratusan Dubes Asing, SBY Bela Ahmadiyah

15/02/2012

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali melontarkan pernyataan yang menyinggung umat Islam. Di hadapan 128 Dubes asing yang berkumpul di Kantor Kementerian Luar Negeri hari ini, SBY yang berkali-kali di demo oleh Forum Umat Islam (FUI) agar mengeluarkan Keppres pembubaran Ahmadiyah, justru terkesan membela aliran sesat penoda akidah Islam tersebut. Dengan lantang, Presiden RI yang merangkap sebagai Dewan Pembina Partai Demokrat ini mengatakan,"Soal Ahmadiyah dan GKI Yasmin, saya perlu jelaskan, negara tidak melarang siapa pun yang memiliki keyakinan," tegasnya sebagaimana dikutip detik.com (15/2)
Pernyataan SBY di hadapan para Dubes asing ini tentu makin menguatkan dugaan adanya intervensi dari pihak asing terkait keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Setahun lalu, sebanyak 27 anggota Kongres AS menandatangani surat yang dikirimkan kepada SBY, yang berisi tekanan terhadap pemerintahannya agar menjaga dan melindungi Ahmadiyah. Para anggota Kongres AS tersebut mempersoalkan Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dan Jaksa Agung, yang dianggap mengancam eksistensi warga Ahmadiyah di Indonesia. "Sejak adanya Keputusan 2008 (SKB) tentang pelarangan aktivitas Ahmadiyah, kerusuhan menentang agama minoritas terus meningkat. Bukan hanya keputusan yang dikeluarkan di Jawa Timur dan Jawa Barat itu bertentangan dengan prinsip hak asasi internasional, tetapi, jami juga takut bahwa mereka akan memberikan keberanian kepada ekstrimis dan memperburuk kekerasan terhadap Ahmadiyah," demikian diantara isi surat tersebut.
Selain berkirim surat, pada 23 Februari 2008, rombongan Kongres AS yang dipimpin oleh David Draier, datang menemui Presiden SBY di Istana Negara. Dalam pertemuan itu, tanpa tedeng aling-aling rombongan Kongres AS meminta agar pemerintah melindung warga Ahmadiyah. Kepada media massa, David Draier mengatakan, "Dengan masih adanya ekstremisme, ini tentu menjadi tantangan yang terus menerus ada," ujarnya sambil menyebut kelompok penentang Ahmadiyah sebagai ekstremis.
Kini, seperti menuruti kemauan asing, SBY yang pernah menyebut Amerika sebagai negara keduanya, menyatakan bahwa negara tidak melarang keyakinan Ahmadiyah. Pernyataan ini seolah menyebut bahwa keyakinan Ahmadiyah adalah sah-sah saja, harus dilindungi, dan tidak bertentangan dengan keyakinan umat Islam. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa sesat pada tahun 1980 dan dikukuhkan kembali pada fatwa tahun 2005. Selain itu, Rabithah Al-Alam Al-Islami (Liga Muslim Dunia) pada tahun 1974 sudah mengeluarkan fatwa kekafiran Ahmadiyah dan meminta seluruh dunia Islam organisasi sesat ini. Dalam fatwa yang dikeluarkannya, Rabithah Al-Alam Al-Islami menyatakan, "Qadhianiyah (Ahmadiyah) semula dibantu perkembangannya oleh imprealisme Inggris. Karena itu Qadhiani telah tumbuh subur di bawah bendera Inggris. Gerakan ini telah berkhianat dan berbohong dalam berhubungan dengan umat Islam. Agaknya mereka setia kepada imprealisme dan Zionisme," demikian diantara isi fatwa yang dirumuskan di Makkah Al-Mukarramah, dan dihadiri oleh 140 delegasi negara-negara Muslim.
Ironisnya, SBY sebagai pemimpin negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim justru membuat pernyataan bahwa negara yang dipimpinnya tidak melarang keyakinan siapapun, termasuk keyakinan sesat menyesatkan dan kufur seperti Ahmadiyah. Pernyataan SBY makin menguatkan dugaan selama ini, bahwa ia tak lebih dari kepanjangan tangan asing di negeri ini.(AW/Eramuslim.com)

Munarman: Demokrat Balas Dendam Terhadap FPI

15/02/2012
Ketua DPP FPI, Munarman mencium ada aura balas dendam dari Partai Demokrat untuk membubarkan FPI. Kita ketahui bersama beberapa laskar FPI turut ikut aksi demo ke rumah Anas terkait korupsi. “Ini balas dendam,” tegasnya kepada Eramuslim.com, Rabu (15/02)
Terlebih menurut Munarman, Anas hampir saja dijadikan tersangka. Kondisi ini Demokrat makin terpojok. Karenanya, isu pembubaran FPI adalah skenario untuk mengalihkan isu di media massa. Lalu muncullah SBY meminta FPI mengintropeksi diri.
“Seolah-olah SBY sebagai penyelemat bangsa. Ini isu yang dialihkan. Operatornya adalah Ulil,” terangnya menyorot Ulil Abshar Abdalla sebagai aktor aksi Gerakan Indonesia Tanpa FPI, kemarin
Direktur An Nashr institute ini juga membantah pernyataan Ulil dimana Gerakan Pembubaran FPI murni karena FPI terindikasi sebagai ormas kekerasan.
“Kalau Ulil menolak kekerasan seharusnya dia menolak preman-preman yang memakai kekerasan di Kalimantan Tengah kemarin. Menduduki akron, membawa senjata tajam itu kan aksi kekerasan. Di Kalimantan Tengah FPI tidak melakukan kekerasan. Bahkan FPI yang diminta untuk berdiri di Kalimantan Tengah oleh Warga Dayak,” tanyanya. (Pz)
Sumber : Eramuslim.com