+ Huruf Lebih Besar | -Huruf Lebih Kecil

WELCOME

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas diluncurkannya Weblog ROHIS SMA Negeri 3 Unggulan Kayuagung. Mengingat begitu cepatnya perkembangan IPTEK khususnya dibidang...

Jumat, 31 Mei 2013

Militer Myanmar, Aung San Suu Kyi , Keduanya Berada di Pihak Budha Ekstremis

  Komunitas Muslim Rohingya di Pakistan telah menggelar unjuk rasa di kota pelabuhan selatan Karachi untuk menunjukkan kemarahan mereka pada kekerasan yang sedang berlangsung di Myanmar. Pada hari Jumat, para pemrotes mengecam pemerintah Myanmar untuk perannya dalam kekerasan terhadap Muslim Rohingya dan meminta badan-badan internasional untuk menghentikan penganiayaan terhadap umat Islam di negara ini.
800.000 muslim Rohingya dirampas hak-hak kewarganegaraan karena kebijakan diskriminasi  hak kewarganegaraan dan membuat mereka sangat  rentan terhadap tindak kekerasan dan penganiayaan, pengusiran, dan pemindahan.
Pemerintah Myanmar sejauh ini menolak untuk memberikan kewarganegaraan Rohingya di negara bagian barat Rakhine dari limbo kewarganegaraan mereka, meskipun tekanan internasional untuk memberi mereka status hukum.
Ratusan Rohingya diyakini telah tewas dan ribuan mengungsi akibat serangan terbaru oleh ekstrimis yang menyebut dirinya umat Buddha.
Para ekstremis budha sering menyerang Rohingya dan telah membakar rumah mereka di beberapa desa di Rakhine. Tentara Pasukan Myanmar diduga memberikan wadah bensin untuk membakar rumah-rumah warga Muslim, yang kemudian terpaksa mengungsi.
Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi peraih Nobel juga telah datang dan menunjukkan sikapnya  pada kekerasan atas Muslim . Peraih Nobel Perdamaian juga  menolak untuk mengecam militer Myanmar untuk penganiayaan terhadap Muslim Rohingya.
Rohingya beragama  Muslim , mereka keturunan dari berbagai negeri muslim seperti  Turki, Bengali, dan Pathan, yang bermigrasi ke Myanmar pada awal abad ke-8.
Amnesty International dan Human Rights Watch telah mengeluarkan pernyataan terpisah, menyerukan Myanmar untuk mengambil tindakan untuk melindungi penduduk Muslim Rohingya melawan ekstrimis Budha .(Dz/Bbrp/dfar/Abn

Sumber : Eramuslim.com

Sabtu, 18 Mei 2013

MUSLIM MYANMAR ANTISIPASI SERANGAN DARI WARGA BUDHA


MUSLIM MYANMAR ANTISIPASI SERANGAN DARI WARGA BUDHA

Berita International
Baru-baru ini setelah serangan yang ditujukan kepada keseluruhan warga yang bergama Islam di Myanmar, membuat warga mencoba untuk melakukan upaya-upaya antisipasi jika adanya serangan lanjutan yang dilangsungkan oleh warga Budha terhadap mereka. Upaya-upaya antisipasi yang telah dilakukan adalah dengan cara membentengi desa-desa di sekitar pedesaan dengan pagar bambu. Pedesaan umat muslim yang diserang tersebut berlokasi di daerah Win Kite, Myanmar Tengah.
Dari balik pagar bambu yang telah didirikan kokoh di pedesaan, mereka mengintai keareal sawah yang kering dimana areal itu merupakan permukiman warga penganut Budha. Umat muslim pedesaan Win Kite mewaspadai kearah sawah jikalau saja ada tanda-tanda asap yang mengepul disinyalir ada sekelompok orang yang akan mendekat ke pemukiman warga muslim ini.
Merujuk dari sumber Reuters pada hari Sabtu (4/5) ungkapan dari salah satu war ga Win Kite mengatakan, “Pada rabu yang lalu (1/5) sekitar 100 orang umat Budha bersenjatakan tongkat telah berkumpul di luar pagar, mengancam akan membakar desa dan membunuh mereka.”
Kin selaku warga pedesaan itu mengatakan, “Kami memiliki rencana untuk mempertahankan diri, jika mereka datang dan menyerang kami. Warga di Win Kite telah mempersenjatai diri dengan parang sebagai tindakan pencegahan ketika tentara dan polisi berpatroli di daerah kami.”
Pagar bambu dengan tinggi mencapai 1,5 meter itu telah didirikan mengitari daerah pedesaan Win Kite. Kejadian itu telah membuktikan bahwa di Myanmar telah timbul perpecahan antara penganut Muslim dan penganut Budha dimana penganut Budha merupakan agama yang dianut warga mayoritas di Myanmar. Akibat kejadian yang terjadi itu, negara-negara tetangga di Asia Tenggara juga ikut-ikutan mendapatkan dampaknya.
Dimana di Jakarta pada hari Jum’at (3/5), kedutaan besar Myanmar mendapatkan serangan oleh bebrapa warga. Akan tetapi serangan itu bisa diatasi oleh pihak Densus dari Mabel Polri. Rencana penyerangan itu disinyalir merupakan reaksi warga Muslim Jakarta karena adanya penyerangan dari umat Budha terhadap umat Muslim Rohingya Myanmar yang memakan korban sebanyak 44 jiwa pada bulan Maret yang lalu.


Sabtu, 06 April 2013

Militer Myanmar, Aung San Suu Kyi , Keduanya Berada di Pihak Budha Ekstremis


Komunitas Muslim Rohingya di Pakistan telah menggelar unjuk rasa di kota pelabuhan selatan Karachi untuk menunjukkan kemarahan mereka pada kekerasan yang sedang berlangsung di Myanmar.
Pada hari Jumat, para pemrotes mengecam pemerintah Myanmar untuk perannya dalam kekerasan terhadap Muslim Rohingya dan meminta badan-badan internasional untuk menghentikan penganiayaan terhadap umat Islam di negara ini.
800.000 muslim Rohingya dirampas hak-hak kewarganegaraan karena kebijakan diskriminasi  hak kewarganegaraan dan membuat mereka sangat  rentan terhadap tindak kekerasan dan penganiayaan, pengusiran, dan pemindahan.
Pemerintah Myanmar sejauh ini menolak untuk memberikan kewarganegaraan Rohingya di negara bagian barat Rakhine dari limbo kewarganegaraan mereka, meskipun tekanan internasional untuk memberi mereka status hukum.
Ratusan Rohingya diyakini telah tewas dan ribuan mengungsi akibat serangan terbaru oleh ekstrimis yang menyebut dirinya umat Buddha.
Para ekstremis budha sering menyerang Rohingya dan telah membakar rumah mereka di beberapa desa di Rakhine. Tentara Pasukan Myanmar diduga memberikan wadah bensin untuk membakar rumah-rumah warga Muslim, yang kemudian terpaksa mengungsi.
Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi peraih Nobel juga telah datang dan menunjukkan sikapnya  pada kekerasan atas Muslim . Peraih Nobel Perdamaian juga  menolak untuk mengecam militer Myanmar untuk penganiayaan terhadap Muslim Rohingya.
Rohingya beragama  Muslim , mereka keturunan dari berbagai negeri muslim seperti  Turki, Bengali, dan Pathan, yang bermigrasi ke Myanmar pada awal abad ke-8.
Amnesty International dan Human Rights Watch telah mengeluarkan pernyataan terpisah, menyerukan Myanmar untuk mengambil tindakan untuk melindungi penduduk Muslim Rohingya melawan ekstrimis Budha .(Dz/Bbrp/dfar/Abn

eramuslim.com

Pilihan Muslim Rohingya “Berlutut di Hadapan Biksu atau Mati”


Saksi mata dari kota Meiktila di pusat Myanmar menyebutkan bahwa mereka mengalami pemukulan dan penyiksaan oleh para biksu Buddha dalam tindak kekerasan terhadap Muslim dan toko-toko mereka.
Seorang saksi mata, Nurba, ibu dari dua orang anak menggambarkan penyiksaan yang dialami oleh keluarganya dan tindak pembunuhan terhadap suaminya, dimana ia manangis sambil berkata,”Massa memukuli suami saya dan saudaranya, lalu kemudian mereka dilemparkan kedalam api dan dibakar hidup-hidup.”
Nurba menambahkan bahwa umat Buddha meminta kaum muslimin untuk berlutut dihadapan para biksu, tetapi mereka menolak, bahkan polisi yang datang pun ikut memaksa mereka untuk berlutut dihadapan biksu, dan ini yang menjadi alasan mengapa mereka masih hidup sampai ini.”
Wanita Rohingya itu mengatakan,”kaum Muslimin tidak akan bersujud dan tunduk kecuali dihadapan Allah SWT dalam sholat, tapi hal ini adalah perkara hidup dan mati mereka.”
Seorang saksi mata yang lain bernama Muhammad mengatakan,”massa menyerang kami, dan saya melihat teman saya dibunuh didepan mata saya sendiri, salah satu teman saya yang bernama Abu Bakar diseret dan dipukuli lalu dibakar dan perutnya ditusuk dengan pedang.”
Muhammad mengatakan,”Massa yang menyerang kami adalah orang asing yang tidak pernah kami lihat sebelumnya, mereka berambut merah panjang.”
Muslim Rohingnya telah melarikan diri dari Genosida yang dilakukan oleh umat Buddha di Burma, hampir lebih dari enam juta muslim di Burma mengalami penganiyaan dan pengusiran, dimana pemerintah Burma mengatakan bahwa Muslim Rohingya yang dibantai adalah bukan warga negara Burma. Pernyataan itu telah menuai berbagai cercaan dan memperlihat kebohongan yang sangat nyata, karena sejarah telah mencatat bahwa Muslim di wilayah ini telah berada sejak lima abad yang lalu. Alasan dari kebohongan ini tidak lain adalah menyingkirkan kaum Muslimin dan mengurangi populasinya di Myanmar. (hr/IS)

eramuslim.com